Tuesday, March 3, 2009

Menata Kantin 'Bonbin' FIB menjadi Kantin Rekadaya Boga Satu Humaniora Mandiri

Universitas Gadjah Mada kembali menata keberadaan pedagang kaki lima (PKL). Kali ini penataan dilakukan terhadap kantin 'Bonbin' Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang berlokasi di Jalan Sosio Humaniora. Dengan menggandeng Bank Mandiri sebagai penyandang dana, UGM ingin memperbaiki sarana berjualan bagi 13 pedagang yang hingga kini masih bertahan di tempat tersebut. Secara simbolik, penataan kantin 'Bonbin' ditandai dengan pembukaan selubung papan nama oleh Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi., M.Eng, Ph.D., dan Direktur Utama Bank Mandiri, Agus Martowardoyo, Sabtu (28/2). Acara kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon sawo kecik.

Rektor mengatakan dalam sambutannya, penataan ini merupakan upaya UGM dalam memberikan kesempatan kepada para PKL untuk tetap menjalankan usahanya. Bagaimanapun, mereka telah memberikan pelayanan kepada para mahasiswa yang merupakan calon-calon pemimpin bangsa. "Ini merupakan salah satu bentuk penghargaan kepada Bapak-Ibu pedagang kali lima di sini. Karena atas jasa-jasanya, beberapa mahasiswa telah lulus dan telah bekerja di dalam negeri, bahkan beberapa di antaranya di luar negeri," ucap Rektor.

UGM saat ini memiliki 50.000 mahasiswa dan setiap tahunnya menerima kurang lebih 6.000 mahasiswa. Dari jumlah itu, 1.000 mahasiswa berasal dari keluarga miskin. Rektor melanjutkan, "Jadi kami memiliki mahasiswa ada yang putra pemulung, putra pedagang seperti disini, petani. Tapi ada pula yang anak menteri, jenderal, ada pula putra pejabat bank, putra pejabat di pemerintah daerah. Semua ini campur sehingga boleh dikatakan UGM sebagai mikro Indonesia. Dari semua provinsi dan lapisan ada di UGM ini."

Lebih lanjut dikatakan bahwa kantin 'Bonbin' FIB UGM dulu sering didatangi mahasiswa asing. Para mahasiswa tersebut sangat terkesan karena di tempat itu mereka dapat saling berkomunikasi, bertukar pikiran, dan pengalaman. Dari hal tersebut, kesan yang timbul ketika di UGM tidak hanya sekedar belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar tentang kehidupan riil. "Dengan begitu, banyak dari mereka yang telah bekerja di banyak tempat merindukan kembali ke UGM. Bahkan, belum lama ini kami berkunjung ke Kedutaan Besar Jepang, separuh staf yang berbahasa Indonesia pernah belajar disini. Jadi, hampir 100 persen. Teman-teman Australia yang di Acicis juga, Amerika, Usindo. Jadi, nampaknya banyak kedutaan-kedutaan yang merasa cocok untuk membangun komunikasi dengan Indonesia entry-nya di UGM ini. Karena di sini memiliki bidang studi yang sangat lengkap, dari hard science, soft science, hingga filosofi," kata Rektor.

Apa yang telah dirintis bersama Bank Mandiri dan UGM ini, Rektor berharap akan mendukung penyelenggaraan World Conference pada tahun 2010 di UGM. Upaya semacam ini merupakan cerminan bahwa kampus UGM melakukan percepatan untuk kesiapan menjamu tamu-tamu asing. "Mereka tentunya nanti diharapkan terkesan bahwa di Indonesia ada sebuah kampus yang bagus dilihat dari sisi fisik maupun jasmaninya. Untuk itu, saya mengusulkan kantin ini nantinya diberi nama Rekadaya Boga Satu Humaniora Mandiri. Kenapa kita beri angka satu? Karena kita yakin kelak akan lahir yang kedua, ketiga, dan selanjutnya," tutur Rektor.

Direktur Pengelolaan dan Pemeliharaan Aset UGM, Dr. Ing. Singgih Hawibowo, menyatakan penataan direncanakan memakan waktu tiga bulan. Untuk lebih memberikan rasa nyaman bagi pembeli, kantin akan dilengkapi dengan panggung permanen sebagai tempat berekspresi mahasiswa, khususnya Fakultas Ilmu Budaya, Psikologi, Ekonomi dan Bisnis, serta Filsafat. "Bulan Juni mudah-mudahan sudah selesai dan mungkin di sudut-sudut kantin akan ditempatkan hot spot," tambahnya.

Menurut Singgih, penataan ini menunjukkan kawasan UGM kini sangat terbuka dan telah menjadi ruang publik. Kawasan UGM menjadi jalan tembus dari segala arah bagi masyarakat luas. Tidak mengherankan bila dampaknya UGM menjadi kawasan yang kurang tertata dan terjaga. "Di sini tidak kurang 400 PKL menggantungkan sumber penghidupan dari berjualan. Sebagian dari mereka berdagang pada pagi, siang, sore, dan malam hari, dan tersebar di Boulevard, Lembah, Jalan Agro utara Fakultas Kehutanan, Jalan Kesehatan sebelah barat FK dan FKG dan beberapa lokasi lainnya," ujarnya.

Setelah dilakukan penataan dan pendampingan, diharapkan agar lokasi menjadi lebih bersih, asri, nyaman, dan atraktif. Demikian halnya dengan adanya berbagai fasilitas baru, jumlah pembeli diharapkan akan semakin meningkat. "Mudah-mudahan omset para pedagang meningkat, sementara mahasiswa akan mendapatkan makanan dan minuman yang lebih higienis dan bergizi dengan harga terjangkau," kata Singgih. (Humas UGM)

No comments:

Post a Comment

Search Web Here :

Google
Hope all visited can search anything in "Goole Search" above. click button BACK" in page search)