Wednesday, May 27, 2015

Perempuan dan Laki-Laki Miliki Peluang sama Bermigrasi ke kota

Di abad 21, globalisasi, liberalisasi dan studi migrasi memberi perhatian pada migrasi internasional. Hal tersebut menjadikan migrasi internal, terutama migrasi desa - kota kurang mendapat perhatian sehingga terdapat kekosongan informasi terkait migrasi kota - desa.

Demikian disampaikan pakar kependudukan UGM, Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, M.A pada seminar "Pembangunan, Migrasi dan Kebijakan" di Auditorium Gedung Masri Singarimbun, Kamis (2/4). Seminar dalam rangka HUT ke-42 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, ini hadir beberapa pembicara diantaranya Prof. Chris Manning, Ph.D (ANU, Adjunct), Prof. Ir. Tommy Firman, M.Sc., Ph.D (ITB), Palmira Permata Bachtiar, M.Sc., M.A (SMERU) dan Dr. Sukamdi, M.Sc (PSKK UGM).

Tadjuddin mengatakan ditengah kecenderungan meningatnya angka migrasi internasional, isu migrasi desa - kota dinilai masih cukup penting guna memicu dan mendorong pertumbuhan penduduk kota. Oleh karena itu, baginya, penting untuk kembali meneliti tren serta pola migrasi desa - kota sebagai gejala sosial - ekonomi yang berdampak penting untuk peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup.
"Salah satu dampaknya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain itu, perlu diketahui bagaimana pola migrasi internal, terutama desa - kota dan implikasinya bagi kesejahteraan migran di kota di abad 21 ini," katanya.

Menyampaikan data temuan survei Rural-urban Migration in China and Indonesia (RUMiCI) di empat kota di Indonesia, yaitu Tangerang, Samarinda, Medan dan Makassar, Tadjuddin menyatakan selama lima tahun terakhir peluang perempuan perdesaan untuk bermigrasi  ke kota hampir sama dengan peluang laki-laki. Di Tangerang, misalnya peluang perempuan untuk bermigrasi dari desa ke kota mencapai 48 persen.

"Angka ini tidak terpaut jauh dengan peluang laki-laki bermigrasi ke kota, yaitu 52 persen", ungkapnya.

Sementara itu, jika dilihat dari karakteristik umurnya, risen migran maka di semua kota berusia muda. Baik perempuan maupun laki-laki dominan berada pada kelompok umur 20 sampai 29 tahun. Pada kelompok umur ini, jumlah perempuan masih lebih banyak di bandingkan laki-laki.

"Risen migran menurut definisi BPS, adalah orang yang pada saat sensus penduduk atau pencacahan tinggal di provinsi yang berbeda dengan provinsi tempat tinggalnya saat lima tahun yang lalu. Dan risen migran perempuan baik yang melanjutkan pendidikan seperti di Makassar maupun yang bekerja di pabrik seperti di Tangerang adalah memang berusia muda", imbuhnya.

Dari studi empat kota ini, menurut Tadjuddin, memperlihatkan kesejahteraan para migran desa - kota mengalami perbaikan meskipun perbaikan kesejahteraan tersebut belum seperti penduduk kota lainnya. Seperti untuk tingkat pendidikan, risen migran perempuanjuga masih lebih tinggi dibanding laki-laki, terkecuali di Samarinda.

"Para migran perempuan usia muda dari perdesaan dalam lima tahun terakhir memang memiliki tingkat pendidikan yang relatif lebih baik. Peluangnya untuk bermigrasi ke kota pun relatif sama dengan laki-laki, dan mereka banyak bekerja di sektor manufaktur. Meski, tak sedikit pula yang bekerja dengan upah rendah dan berstatus outsorching", katanya lagi.

Prof. Tommy Firman, pakar perencanaan wilayah dan kota dari ITB menyatakan migrasi desa - kota atau urbanisasi sering dikaitkan dengan tingkat perkembangan ekonomi. Urbanisasi terjadi seiring dengan pergeseran struktur ekonomi dari agraris ke sektor industri dan jasa.

"Selama periode 2000 hingga 2010, penduduk perkotaan tumbuh dari 85 juta menjadi 118 juta lebih. Tingkat urbanisasi, yaitu proporsi penduduk perkotaan naik signifikan dari 41,9 persen menjadi 49,7 persen selama sepuluh tahun," katanya.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun itu, kata Tommy, jumlah daerah perkotaan di Indonesia  mengalami peningkatan. Derah perkotaan di Jawa dinilai lebih meningkat signifikan dibanding dengan wilayah lain di luar Jawa, yaitu dari 30,02 persen menjadi 36,66 persen. Sementara di luar Jawa kota yang mengalami peningkatan tertinggi adalah Bali, dari 34,22 persen menjadi 36,92 persen disusul Sumatera Utara dan Kalimantan Timur.

Meski penduduk perkotaan berkembang pesat dengan berbagai tingkat variasi, namun penduduk perkotaan sebagian besar masih terkonsentrasi di kota-kota besar di Jawa terutama di Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). "Oleh karena itu, dari pembangunan perkotaan dan perspektif perencanaan mestinya diharapkan ada kebijakan perkotaan nasional yang dilaksanakan secara konsisten guna merangsang pembangunan kota-kota di pulau-pulau terluar Indonesia", tandas Tommy. (Humas UGM/ Agung)

No comments:

Post a Comment

Search Web Here :

Google
Hope all visited can search anything in "Goole Search" above. click button BACK" in page search)